PERTUMBUHAN INDIVIDU
A. PENGERTIAN
INDIVIDU.
Kata individu “individu” berasal dari kata latin,
“individuum” artinya “yang tak terbagi”. Individu merupakan suatu sebutan yang
dapat dipakai untuk menyatakan suatu kesatuan yang paling kecil dan terbatas.
Individu bukan berarti manusia sebagai suatu keseluruhan yang tak dapat dibagi,
melainkan sebagai kesatuan yang terbatas, yaitu sebagai manusia perseorangan.
Setiap individu corak sifat dan tabiat yang berbeda.
Individu adalah seorang manusia yang tidak hanya
memiliki peranan khas didalam lingkungan sosialnya, melainkan juga mempunyai
kepribaian serta pola tingkah laku spesifik lainnya. Hasil pengamatan manusia
dengan segala maknanya merupakan suatu keutuhan ciptaan Tuhan yang mempunyai
tiga aspek melekat pada dirinya, yaitu aspek organik jasmaniah, aspek
psikis-rohaniah, danaspek-sosial kebersamaan. Ketiga aspek tersebut saling
mempengaruhi, keguncangan pada suatu aspek akan membawa akibat pada aspek lainnya.
B. PENGERTIAN
PERTUMBUHAN.
Pertumbuhan ialah perubahan yang menuju ke arah yang
lebih maju dan lebih dewasa, perubahan ini dsebut juga dengan proses. Timbul
beberapa pendapat mengenai pertumbuhan dari berbagai aliran, yaitu:
1. Aliran
Asosiasi
Pertumbuhan pada dasarnya adalah proses asosiasi.
Pengertian tentang proses asosiasi yaitu terjadinya perubahan pada seseorag
secara tahap dei tahap karena pengaruh baik dari pengalaman atau empiri luar
melalui panca indra yang menimbulkan sensationsmaupun pengalaman dalam
mengenai keadaan batin sendiri yang menumbulkan reflextions.
2. Aliran
Psikologis Gestalt
Pertumbuhan adalah proses diferensasi. Dalam
proses ini yang menjadi hal pokok adalah keseluruhan, sedang bagian-bagian
hanya mempunyai arti sebagai bagian dari keseluruhan dalam hubungan fungsional
dengan bagian-bagian yang lain. Kesimpulannya pertumbuhan itu adalah proses
perubahan secara perlahan-lahan pada manusia dalam mengenal suatu yang semula
mengenal suatu secara keseluruhan baru kemudian mengenal bagian-bagian dari
lingkungan yang ada.
C. FAKTOR FAKTOR
YANG MEMPENGARUHI PERTUMBUHAN.
Dalam pertumbuhan itu ada bermacam-macam aliran, namun
pada garis besarnya dapat digolongkan ke dalam tiga golongan, yaitu:
1. Pendirian
Nativistik
Menurut para ahli dari golongan ini berendapat, bahwa
pertumbuhan individu itu semata-mata ditentukan oleh faktor-faktor yang dibawa
sejak lahir.
Para ahli dari golongan ini mennjukkan berbagai
kesempatan atau kemiripan antara orang tua dengan anaknya. Misalnya seorang
ayah memiliki keahlian dibidang seni lukis maka kemungkinan besar anaknya juga
menjadi pelukis.
2. Pendirian
Emperistik dan Environmentalistik
Pendirian ini berlawanan dengan pendapat nativistik.
Para ahli berpendapat, bahwa pertumbuhan individu semata-mata tergantung pada
lingkungan sedang dasar tidak berperan sama sekali.
Apabila konsepsi ini dapat tahan uji (benar) akan
dihasilkan menusia-manusia ideal asalkan dapat disediakan kondisi yang
dibutuhkan untuk usaha itu. Tetapi dalam kenyataan sering dijumpai lain, banyak
diantara anak-anak orang kaya atau orang pendai mengecewakan orang tuanya,
karena tidak berhasil dalam belajar, walaupun fasilitas yang diperlukan telah
tersedia secara lengkap dan sebaliknya ada anak-anak dari orang tua yang
kurang mampu sangat berhasil dalam belaja, walaupun fasilitas belajar yang
dimiliki sangat minimal, jauh dari mencukupi.
3. Pendirian
Konvergensi dan Interaksionisme
Kebanyakan para ahli mengakui pendirian konvergensi
dengan modifikasi seperlunya. Suatu modifikasi yang terkenal yang sering
dianggap sebagai perkembangan lebih jauh konsepsi
konvergensiialah konsepsi interaksionisme yang berpandangan dinamis
yang menyatakan bahwa interaksi dasar dan lingkungan dapat menentukan
pertumbuhan individu. Nampak lain dengan konsepsi konvergensi yang berpandangan
statis yaitu menganggap pertumbuhan individu itu ditentukan oleh dasar (bakat)
dan lingkungan.
4. Tahap
Pertumbuhan Individu berdasar Psikologi
Pertumbuhan individu sejak lehir sampai masa dewasa
atau masa kematangan itu melalui beberapa fase sebagai berikut:
a. Masa vital
yaitu dari 0,0 sampai kira-kira 2,0 tahun.
b. Masa estetik
dari umur kira-kira 2,0 tahun sampai kra-kira 7,0 tahun.
c. Masa
intelektual dari kira-kira umur 7,0 tahun sampai kira-kira umur 13,0 tahun atau
14,0 tahun.
d. Masa sosial, kira-kira
umur 13,0 tahun atau 14,0 tahun sampai kira-kira umur 20,0 tahun atau 21,0
tahun.
a. Masa Vital
Pada masa vital ini individu menggunakan fungsi-fungsi
biologis untuk menemukan berbagai hal dalam dunianya. Menurut Freud tahun
pertama dalam kehidupan individu itu sebagai masa oral, karena mulut dipandang
sebagai sumber kenikmatan dan ketidak-nikmatan.
Pendapat semacam ini mungkin beralasan kepada
kenyataan, bahwa pada masa ini mulut memainkan peranan terpenting dalam
kehidupan individu. Bahwa anak memasukkan apa saja yang dijumpai kedalam
mulutnya itu tidak karena mulutnya merupakan sumber kenikmatan utama, melainkan
karena pada waktu itu merupakan alat utama untuk melakukan eksplorasi dan
belajar. Pada tahun kedua anak belajar berjalan, dan dengan berjalan itu anak
mulai pula belajar menguasai ruang. Disamping itu terjadi pembiasaan tahu akan
kebersihan. Melalui tahu akan kebersihan itu anak belajar mengontrol
impuls-impuls yang datang dari dalam dirinya.
b. Masa Estetik
Masa estetik ini dianggap sebagai masa pertumbuhan
rasa keindahan. Sebenernya kata estetik diartikan bahwa masa ini pertumbuhan
anak yang terutama adalah fungsi pancaindera.
Adapun alasan anak berbut kenakalan dalam usia-usia
tersebut adalah sebagai berikut:
Berkat pertumbuhan bahasanya yang merupakan modal
utama bagi anak dalam maenghadapi dunianya maka sampailah anak pada penyadaran
“aku”nya atau tahap menemukan “aku”nya yaitu suatu tahap ketika anak menemukan
dirinya sebagai subyek.
c. Masa
Intelektual (masa keserasian bersekolah)
Setelah anak melewati masa kegoncangan yang pertama,
maka proses sosialisasinya telah berlangsung dengan lebih efektif, sehingga
menjadi matang untuk dididik daripada masa-masa sebelum dan sesudahnya.
Ada beberapa sifat khas pada anak-anak pada masa ini
antara lain:
1. Adanya
korelasi posistif yang tinggi antara keadaan jasmani dengan prestasi sekolah.
2. Sikap
tunduk kepada peraturan-peraturan, permainan yang tradisional
3. Adanya
kecenderungan memuji didi sendiri
4. Kalau
tidak dapat menyelesaikan sesuatu saol amka soal itu dianggap tidak penting.
5. Senang
membangdingkan-bandingkan dirinya dengan anak lain, bila hal itu menguntungkan,
dalam hubungan ini ada kecenderungan untuk merehkan anak lain.
6. Adanya
minat kepada kehidupan praktis sehari-hari yang konkrit.
d. Masa remaja
Masa remaja merupakan masa yang banyak menarik
perhatian masyarakat karena mempunyai sifat-sifat khas yang menentukan dalam
kehidupan individu dalam masyarakatnya. Karena manusia dewasa harus hidup dalam
alam kultur dan harus dapat menempatkan dirinya diantara nilai-nilai (kultur)
itu maka perlu mengenal dirinya sebagai pendukung maupun pelaksana nilai-nilai.
Pada dasarnya ini masih dirinci kedalam beberapa masa, yaitu :
1. Masa pra
remaja
Penggunaan isitilah pra remaja ini hanya untuk
menunjukan satu masa yang mengikuti masa pueral yang berlangsung secra singkat.
Masa ini ditandai oleh sifat-sifat negatif sehingga disebut juga masa negatif.
2. Masa
Remaja
Sebagai gejala pada masa ini adalah merindu puja. Dala
fase ini (masa negatif) untuk pertama kalinya remaja sadar akan kesepian yang
tidak pernah dialaminya pada masa-masa sebelumnya.
Proses terbentuknya pendirian hidup atau cita-cita
hidup itu dapat dipandang sebagai penemuan nilai-nilai hidup tersebut melewati
tiga langkah, yaitu :
· Karena
tiadanya pedoman hingga mereka merindukan sesuatu yang dapat dianggap bernilai,
pantas hidupnya.
· Obyek
pemujaan itu telah menjadi lebih jelas yaitu pribadi-pribadi yang dipandangnya
mendukung nilai-nilai tertentu. Dala mpemujaan terhadap orang-orang tertentu
ini umumnya terdapat perbedaan antara anak laki-laki dan anak perempuan. Pada
laki-laki sering nampak aktif sedang anak perempuan cenderung pasif, mengagumi
dan memuja dalam khayal. Sehingga pada masa ini pulalah umumnya rasa kebangsaan
tumbuh dengan subur.
· Para
remaja lebih dapat menghargai nilai-nilai lepas dari pendukungnya, niali dapat
ditangkap dan dipahaminya sebagai ssuatu yang abstrak. Oleh karena itu pada
saat ini para remaja mulai dapat menentukan pilihan atau pemikiran hidupnya.
Penentuan pilihan dan pemikiran hidup mengalami jatuh
bangun, tidak dapat satu kali. Jadi karena mereka harus menguji nilai-nilai
yang dipilihnya dalam kehidupan praktis dimasyarakat.
3. Masa usia
mahasiswa
Masa umur mahasiswa dapat digolongkan pemuda-pemuda
yang berusia sekitar 18 tahun sampai 30 tahun. Meeka dapat dikelompokkan pada
masa remaja akhir sampai dewasa awal atau dewasa madya.
Individu tidak akan jelas identitasnya tanpa adanya
suatu masyarakat yang menjadi latar keberadaannya. Karena dari sinilah kita
akan baru bisa memahami seseorang individu seperti kata johnson.
“.......person
are what they are always in social context..... the solitary person is unreal,
abstract, artifical, abnormal........”
Manusia sebagai individu selalu berada di tengah-tengah
kelompok individu yang sekaligus mematangkannya untuk menjadi pribadi. Proses
dari individu untuk menjadi pribadi, tidak hanya didukung dan dihambat oleh
drinya, tetapi juga didukung dan dihambat oleh kelompok sekitarnya.
B. FUNGSI KELUARGA
Keluarga ialah unit satuan masyarakat yang terkecil yang sekaligus merupakan
suatu kelompok kecil dalam masyarakat. Kelompok ini, dalam hubungannya dengan
perkembangan individu, sering dikenal dengan sebutan primary group. Kelompok
inilah yang melahirkan individu dengan berbagai macam bentuk kepribadiannya
dalam masyarakat. Tidaklah dapat dipungkiri, bahwa sebenarnya keluarga
mempunyai fungsi yang tidak hanya terbatas selaku penerus keturunan saja.
Keluarga biasanya terdiri dari suami, isteri dan
anak-anaknya. anak anak inilah yang nantinya berkembang dan mulai bisa melihat
dan mengenal arti diri sendiri dan kemudian belajar melalui pengenalan itu. Apa
yang dilihatnya, pada akhirnya akan memberinya suatu pengalaman individual.
Dari sinilah mulai dikenal sebagai individu. Individu ini pada tahap
selanjutnya mulai merasakan bahwa telah ada individu-individu lainnya yang
berhubungan secara fungsional. Individu-individu tersebut adalah keluarganya
yang memelihara cara pandang dan cara menghadapi masalah-masalahnya, membinanya
dengan cara menelusuri dan meramalkan hari esoknya, mempersiapkan pendidikan,
keterampilan dan bidipekertinya. Akhirnya keluarga menjadi semacam model untuk
mengidentifikasikan sebagai keluarga yang broken home, moderate dan keluarga
sukses.
a. Pengertian
fungsi keluarga
Dalam kehidupan keluarga sering kita jumpai adanya
pekerjaan-pekerjaan yang harus dilakukan. Suatu oekerjaan atau tugas yang harus
dilakukan itu biasa disebut dengan fungsi. Fungsi keluarga adalah suatu
pekerjaan-pekerjaan atau tugas-tugas yang harus dilaksanakan didalam atau oleh
keluarga itu.
b. Macam-macam
fungsi keluarga
Pekerjaan-pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh
keluarga itu dapat digolongkan kedalam beberapa fungsi, yaitu:
· Fungsi
biologis
· Fungsi
pemeliharaan
· Fungsi
ekonomi
· Fungsi
keagamaan
· Fungsi
sosial
· Fungsi
biologis
Dengan
fungsi ini diharapkan agar keluarga dapat menyelenggarakan persiapan-persiapan
perkawinan bagi anak-anaknya. karena dengan perkawinan akan terjadi proses
kelangsungan keturunan. Dan setiap manusia pada hakikatnya terdapat semaca,
tuntutan biologi bagi kelangsungan hidup keturunannya, melalui perkawinan.
· Fungsi
pemeliharaan
Keluarga diwajibkan untuk berusaha agar setiap
anggotanya dapat dapat terlindungi dari gangguan-gangguan sebagai berikut:
1. Gangguan
udara dengan berusaha menyediakan rumah
2. Gangguan
penyakit dengan berusaha menyediakan obat obatan.
3. Gangguan
bahaya dengan berusaha menyediakan pagar tembok dan lainlain
Bila dalam keluarga fungsi ini telah dijalankan dengan
sebaik-baiknya sudah barang tertentu akan membantu terpeliharanya keamanan
dalam masyarakat pula. Sehingga terwujudsuatu masyarakat yang telepas/terhindar
dari segala gangguan apapun yang terjadi.
· Keluarga
berusaha menyelenggarakan kebutuhan manusia yang pokok yaitu:
1. Kebutuhan
makan dan minum
2. Kebutuhan
pakaian untuk menutupi tubuhnya
3. Kebutuhan
tempat tinggal
Berhubung dengan fungsi penyelenggaraan kebutuhan pokok ini maka orng tua
mewajibkan untuk berusaha keras agar setiap anggota keluarga dapat cukup makan
dan minum, cukup pakaian serta tempat tinggal. Juga dapat termasuk kedalam
golongan perlengkapan jasmani adalah permainan anak. Permainan anak ini
memiliki nilai bagi anak-anak untuk mengembangkan daya cipta disamping sebagai
alat-alat rekreasi anak.
· Fungsi
keagamaan
Dinegara indonesia yang berideologi pancasila berkewajiban pada setiap warganya
(rakyat) untuk menghayati, mendalami dan mengamalkan pancasila didala perilaku
dan kehidupan keluarganya sehingga benar-benar dapat diamalkan P4 ini dalam
kehidupan keluarga yang pancasila.
Dengan demikian
akan tercermin bentuk masyarakat yang Pancasila semua keluarga melaksanakan P4
dan fungsi keluarga ini.
· Fungsi
sosial
Dengan fungsi ini keluarga berusaha untuk
mempersiapkan anak-anaknya bekal selengkapnya dengan memperkenalkan nilai-nilai
dan sikap-sikap yang dianut oleh masyarakat serta mempelajari peranan-peranan
yang diharapkan akan mereka jalankan kelak bila sudah dewasa. Dengan demikian
terjadi apa yang disebut dengan istilah sosialisasi.
Dengan melalui nasihat dan larangan, orang tua
menyampaikan norma-norma hidup tertentu dalam bertingkah laku.
Dalam buku ilmu sosial dasar karangan Drs. Soewaryo
Wangsanegara dikatakkan bahwa fungsi-fungsi keluarga meliputi beberapa hal
sebagai berikut:
a. Pembentukan
kepribadian, dalam lingkungan keluarga, para orang tua meletakkan dasar-dasar
kepribadian kepada anak-anaknya, dengan tujuan untuk memprduksikan serta
melestarikan kepribadian mereka dengan anak cucu dan dengan keturunannya. Mulai
sejak anak-anak bertatih-tatih belajar berjalan sampai dengan usia sekolah
dengan penuh kesadaran dan rasa tanggung jawab, lingkungan keluarga yang bertitiktitik
sentral pada ayah dan ibu secara intensif membentuk sikap dan kepribadian
anak-anaknya.
b. Erat
kaitannya dengan butir a, keluarga juga berfungsi sebagai alat reproduksi
kepribadian-kepribadian yang berakar dari etika, estetika, moral keagamaan, dan
kebudayaan yang berkorelasi fungsional dengan struktur masyarakat tertentu.
c. Keluarga
merupakan eksponen dari kebudayaan masyarakat, karena menempati posisi kunsi.
Keluarga adalah sebagai jenjang dan perantara pertama dalam transmisi
kebudayaan.
Pada kelompok masyarakat primitif, peranan keluarga
adalah maha penting sebagai tranmisi kebudayaan, sekalipun pada masyarakat
primitif, peranan keluarga sebagai penyaluran (transmisi) kebudayaan sudah
tidak memadai lagi. Lembaga-lembaga nonformal ataupun formal seperti
sekolah-sekolah adalah perantara-perantara dalam bentuk lain dalam transmisi
kebudayaan. Semakin maju dan dinamis suatu kelompok masyarakat makin banyak
memerlukan sekolah-sekolah. Sejalan dengan itu tranmisi kebudayaan. Sebaliknya
fungsi keluarga sebagai lembaga transmisi kebudayaan secara relatif semakin
mundur.
d. Keluarga
berfungsi sebagai lembaga perkumpulan perekonomian. Dalam masyarakat primitif
biasanya terdapat sistem kekeluargaan yang sangat luas. Akan tetapi
kehidupan perekonomian masih belum berkembang. Pada kelompok-kelompok
masyarakat yang lebih kompleks tetapi belum masuk pada era masyarakat industri,
perekonomian mereka sudah mulai berkembang. Namun begitu ikatan-ikatan
kekeluargaan masih terjalin kuat dan sering mempengaruhi atau menguasai bidang
perekonomian mereka.
e. Keluarga
berfungsi sebagai pust pengasuhan dan pendidikan anak-anak (baik anak laki-laki
ataupun perempuan) dibangun balai pendidikan. Balai pendidikan akan dimiliki
oleh “keluarga besar” (terdiri dari beberapa keuarga baih) atau juga dimiliki
oleh keluarga batih. Dalam masa pendidikan, anak laki-laki atau
perempuan mempunyai tempat sendiri-sendiri, namun harus tetap
tinggal di balai pendidikan yang terpisah. Pelaksanaan pendidikan
anak laki-laki ditangani oleh ayah atau paman dari pihak ayah. Untuk anak
perempuan biasanya ditangani oleh bibi dari pihak ibu. Materi-materi pendidikan
harus diketahui dan harus di kuasai oleh seorang anak laki-laki dalam masa
pendidikan dan seterusnya hingga dewasa,
C. INDIVIDU, KELUARGA dan MASYARAKAT
1) Pengertian Individu
Individu berasal dari kata latin, “individumm” yang
artinya yang tak terbagi. Kata individu merupakan sebutan yang dapat untuk
menyatakan suatu kesatuan yang paling kecil dan terbatas.
Kata individu bukan berarti manusia sebagai suatu
keseluruhan yang tak dapat dibagi melainkan sebagai kesatuan yang terbatas
yaitu sebagai anusia perseorangan, demikian pendapat Dr.A.Lysen.
2) Pengertian Keluarga
Ada beberapa pandangan atau anggapan mengenai
keluarga. Menurut Sigmun Freud keluarga itu terbentuk karena adanya perkawinan
pria dan wanita. Bahwa perkawinan itu menurut belia adalah berdasarkan libido
sesksualis.dengan demikian keluarga merupakan manifestasi daripada dorongan
seksual sehingga landasn keluarga itu adalah kehidupan seksual suami istri.
3) Pengertian Masyarakat
Drs. JBAF Mayor Polak menyebut masyarakat (Society)
adalah wadah segenap antar hubungan sosial terdiri atas banyak sekali
kolektiva-kolektiva serta kelompok dan tiap-tiap kelompok terdiri atas
kelompok-kelompok lebih baik atau sub kelompok.
Kemudian pendapat dari Prof. M.M.Djojodiguno tentang
masyarakat adalah suatu kebulatan daripada segala perkembangan dalam hidup
bersama antara manusia dengan manusia. Akhirnya Hasan Sadily berpendapat bahwa
masyarakat adalah suatu keadaan badan atau kumpulan manusia yang hidup bersama.
(1) Masyarakat Non Industri
Secara garis besar, kelompok nasional atau organisasi
kemasyarakatan non industri dapat digolongkan menjadi dua golongan, yaitu
kelompok primer (primary group) dan kelompok sekunder (secondary group).
(a) Kelompok primer
Dalam kelompok primer, interaksi antar anggota
terjalin lebih intensif, lebih erat, lebih akrab. Kelompok primer ini disebut
juga kelompok “face to face group”, sebab anggota kelompok sering berdialog,
bertatap muka, karena itu saling mengenal lebih dekat, lebih akrab. Sifat
interaksi dalam kelompok-kelompok priimer bercorak kekeluargaan dan lebih
berdasarkan simpati. Pembagian kerja atau pembagian tugas pada kelompok
menerima serta menjalankan tugas tidak secara paksa, lebih dititik beratkan
pada kesadaran, tanggung jawab para anggota dan berlangsung atas dasar rasa
simpati dan secara sukarela.
(b) Kelompok
Sekunder
Antara anggota kelompok sekunder, terpaut saling
hubungan tak langsung, formal, juga kurang bersifat kekeluargaan. Oleh karena
itu, sifat interaksi, pembagian kerja, pembagian kerja antar anggota kelompok
diatur atas dasar pertimbangan-pertimbangan rasional, obyektif.
(2) Masyarakat Industri
Durkheim mempergunakan variasi pembagian kerja sebagai
dasar untuk mendeklasifikasikan dasar masyarakat, sesuai dengan taraf
perkembangannya. Akan tetapi ia lebih cenderung mempergunakan dua taraf
klasifikasi, yaitu yang sederhana dan kompleks. Masyarakat-masyarakat yang
berada di tengah kedua ekstrim tadi diabaikannya (Soerjono Soekanto, 1982 :
190).
Jika pembagian kerja bertambah kompleks, suatu tanda
bahwa kapasitas masyarakat semakin tinggi. Solidaritas didasarkan pada hubungan
saling ketergantungan antara kelompok-kelompok masyarakat yang telah mengenal
pengkhususan. Otonomi sejenis, juga menjadi ciri dari bagian/kelompok-kelompok
masyarakat. Otonomi sejenis dapat diartikan dengan kepandaian/keahlian khusus
yang dimiliki seseorang secara mandiri, sampai pada batas-batas tertentu.
Abad ke-15 sebagai pangkal tolak dari berkembang
pesatnya industrialisasi, terutama didaratan eropa. Hal tersebut telah melahirkan
bentuk pembagian kerja antara majikan dan buruh. Semula pembagian kerja antara
majjikan dan buruh atau mereka yang magang bekerja berjalan serasi, sehingga
konflik jarang terjadi.
4. HUBUNGAN ANTAR
INDIVIDU, KELUARGA DAN MASYARAKAT
a. Makna Individu
Manusia adalah makhluk individu. Makhluk individu
berarti makhluk yang tidak dapat dibagi-bagi, tidak dapat dipisah-pisahkan
antara jiwa dan raganya.
Para ahli
Psikologi modern menegaskan bahwa manusia itu merupakan suatu kesatuan jiwa
raga yang kegiatannya sebagai keseluruhan, sebagai kesatuan. Kegiatan manusia
sehari-hari merupakan kegiatan keseluruhan jiwa raganya. Bukan hanya kegiatan
alat-alat tubuh saja, atau bukan hanya aktivitas dari kemampuan-kemampuan jiwa
satu persatu terlepas daripada yang lain.
Kenyataan-kenyataan yang
kita dapati dalam kehidupan sehari-hari setiap individu berkembang sejalan
dengan ciri-ciri khasnya, walaupun dalam kehidupan lingkungan yang sama.
Contohnya yang sangat tepat adalah anak kembar. Dua individu manusia yang
berasal dari satu keturunan yang sama. Bersumber dari satu indung telur, tetapi
toh-tetap memiliki karakter ramah, tamah, periang, dan mudah bergaul dengan
teman-teman sebaya dalasm lingkungannya. Anak yang satu lagi bersifat tertutup,
pemalu, sukar bergaul dengan teman-teman sebaya dan lingkungannya.
Untuk menjadi
suatu individu yang “mandiri” harus melalui proses. Proses yang dilaluinya
adalah proses pemantapan dalam pergaulan di lingkugan keluarga pada tahan
pertama. Karakter yang khas itu terbentuk dalam lingkungan keluarga secara
bertahap dan akan mengedap melalui sentuhan-sentuhan interaksi : etika,
estetika, dan moral agama. Sejak anak manusia dilahirkan ia membutuhkan proses
pergaulan dengan orang-orang lain untuk memenuhi kebutuhan batiniah dan
lahiriah yang membentuk dirinya. Menurut Sigmund Freud, superego pribadi
manusia sudah mulai terbentuk pada saat manusia berumur 5-6 tahun (W.A
Gerungan. 1980 : 29).
b. Makna keluarga
Keluarga adalah merupakan kelompok primer yang paling
penting di dalam masyarakat. Keluarga menurupakan sebuah group yang terbentuk
dari perhubungan laki-laki dan wanita, perhubungan mana sedikit banyak
berlangsung lama untuk menciptakan dan membesarkan anak-anak. Jadi keluarga
dalam bentuk yang murni merupakan satu kesatuan sosial ini mempunyai
sifat-sifat tertentu yang sama, di mana saja dalam satuan masyarakat manusia.
Di sini kita sebutkan 5 macam sifat yang terpenting
yaitu :
1. Hubungan suami –
isteri :
Hubungan ini mungkin berlangsung seumur hidup dan
mungkin dalam waktu yang singkat saja. Ada yang berbentuk monogomi, ada pula
yang poligami. Bahkan masyarakat yang sederhana terdapat “group married”, yaitu
sekelompok wanita kawin dengan sekelompok laki-laki.
2. Bentuk
perkawinan di mana suami-isteri itu diadakan dan dipelihara.
Dalam pemilihan jodoh dapat kita lihat, bahwa calon
suami-isteri itu dipilihkan oleh orang-orang tua mereka. Sedang pada masyarakat
lainnya diserahkan pada orang-orang yang bersangkutan. Selanjutnya perkawinan
ini ada yang berbentuk indogami (yakni kawin di dalam golongan sendiri, ada pula
yang berbentuk exogami (yaitu kawin di luar golongan sendiri).
3. Susunan
nama-nama dan istilah-istilah termasuk cara menghitung keturunan.
Di dalam beberapa masyarakat keturunan dihitung
melalui garis laki-laki misal : Di batak. Ini disebut patrilineal. Ada yang
melalui garis wanita, di Minangkabau. Ini disebut : Matrilineal, di mana
kekuasaan terletak pada wanita. Di Minangkabau wanita tidak mempunyai hak
apa-apa, bahkan hartanya pun tidak diurusi oleh wanita itu, melainkan diurus
oleh adik atau saudara perempuannya.
4. Milik atau harta
benda keluarga
Di manapun keluarga itu pasti mempunyai milik untuk
kelangsungan hidup para anggota-anggotanya.
c. Makna
Masyarakat
Seperti halnya dengan definisi sosiologi yang banyak
jumlahnya kita dapati pula definisi-definisi tentang masyarakat yang juga tidak
sedikit. Definisi adalah sekedar alat ringkat untuk memberikan batasan-batasan
mengenai sesuatu persoalan atau pengertian ditinjau daripada analisa. Analisa
inilah yang memberikan arti yang jernih dan kokoh dari sesuatu pengertian.
Mengenai arti masyarakat ini, baiklan di sini kita
kemukakan beberapa definisi mengenai masyarakat itu, seperti misalnya :
1. R. Linton :
Seorang ahli antropologi mengemukakan, bahwa masyarakat adalah setiap kelompok
manusia yang telah cukup lama hidup dan bekerjasama, sehingga mereka itu dapat
mengorganisasikan dirinya berfikir tentang dirinya sebagai satu kesatuan sosial
dengan batas-batas tertentu.
2. M.J. Herskovist
: menulis bahwa masyarakat adalah kelompok individu yang diorganisasikan dan
mengikuti suatu cara hidup tertentu.
3. J.L. Gillin dan
J.P. Gillin : mengatakan bahwa masyarakat adalah kelompok manusia yang terbesar
dan mempunyai kebiasaan, tradisi, sikap dan perasaan persatuan yang sama.
Masyarakat itu meliputi pengelompokan-pengelompokan yang lebih kecil.
4. S.R. Steinmets :
seorang sosiologi bangsa Belanda, mengatakan bahwa masyarakat adalah kelompok
manusia yang terbesar, yang meliputi pengelompokan-pengelompokan manusia yang
lebih kecil, yang mempunyai perhubungan yang erat dan teratur.
5. Hasan Shadily :
mendefinisikan masyarakat adalah golongan besar atau kecil dari beberapa
manusia, dengan atau karena sendirinya, bertalian secara golongan dan mempunyai
pengaruh kebatinan satu sama lain.
Kalau kita mengikuti definisi Linton, maka masyarakat
itu timbul dari setiap kumpulan individu, yang telah cukup lama hidup dan
bekerja sama dalam waktu lama.
Kelompok manusia yang dimaksud di atas yang belum
terorganisasikan mengalami proses yang fundamental, yaitu :
a. Adaptasi dan
organisasi dari tingkah laku para anggota.
b. Timbul perasaan
berkelompok secara lambat laun atau lespirit de corps.
Proses ini biasanya bekerja tanpa disadari dan diikuti
oleh semua anggota kelompok dalam suasana trial dan error. Dari uraian tersebut
di atas dapat kita lihat bahwa masyarakat dapat mempunyai arti yang luas dan
dalam arti yang sempit. Dalam arti yang luas masyarakat dimaksud keseluruhan
hubungan-hubungan dalam hidup bersama tidak dibatasi oleh lingkungan, bangsa
dan sebagainya. Atau dengan kata lain: kebetulan dari semua perhubungan dalam
hidup bermasyarakat. Dalam arti smpit masyarakat dimaksud sekelompok manusia
yang dibatasi oleh aspek-aspek tertentu mislanya territorial, bangsa golongan
mahasiswa masyarakan jawa, masyarakat sunda, masyarakat minang, masyarakat
jawa, masyarakat tani dan sebagainya, dipakailah kata masyarakat itu dalam arti
yang sempit.
Mengingat definisi-defisini masyarakat tersebut di
atas , maka dapat ambil kesimpulan, bahwa masyarakat harus mempunyai
syarat-syarat sebagai berikut:
a. Harus ada
pengumpulan manusia, dan harus banyak, bukan pengumpulan manusia binatang.
b. Telah bertempat
tinggal dalam waktu yang lama dalam suatu daerah tertentu.
c. Adanya
aturan-aturan atau undang-undang yang mengatur mereka untuk menuju kepada
kepentingan dan tujuan bersama.
Di dalam hubungan antara manusia dengan manusia
hubungan tadii. Reaksi ini yang menyebabkan hubungan-hubungan manusia bertambah
luas. Misalnya seorang yang menyanyi ia memerlukan reaksi berupa pujian atau
celaan guna mendorong tindakan selanjutnya. Di dalam memberikan reaksi tersebut
ada kecenderungan untuk mensereasikan dengan tindakan orang lain.
Hal ini disebabkan manusia sejak lahir mempunyai 2
hasrat/keinginan, yakni:
- Keinginan
untuk menjadi satu dengan manusia lain disekililingnya (yaitu masyarakat),
milieu sosial.
- Keinginan
untuk menjadi satu dengan suasana sekililingnya.
untuk dapat menyusuaikan diri dengan kedua lingkungan
tersebut manusia menggunakan oikiran untuk dapat menghadapo udara dingin, alam
yang kejam dan sebagainya manusia menciptakan rumah, pakaian, dan lain-lainnya.
Manusia juga harus makan agar tetap sehat : untuk itu ia mengambil makanan
sebagai hasil dari alam sekitarnya dengan menggunakan akal. Untuk mencari
makanannya manusia di laut mencari ikan sebagai nelayan di hutan manusia
terbaru.
Kesemuanya itu ditimbulkan kelompok-kelompo sosial
(Sosial grups) dalam kehidupan manusia karena tak mungkin hidup sendiri.
Menurut ellwod, faktor-faktor yang menyebabkan manusia
hidup bersama, adalah:
a. Dorongan untuk
mencari makan : penyelenggaraan untuk mencari makanan itu lebih mudah di
lakukan dengan bekerjasama.
b. Dorongan untuk
mempertahankan diri : terutama pada keadaan primitif : dorongan ini merupakan
cambuk untuk kerjasama
c. Dorongan
untuk melangsunkan jenis.
Manusia sebagai makhluk sosial manapun tersusun dalam
kelompok-kelompok. Fakta ini menunjukan manusa mempunyai sosial akan pembawaan
dalam pergaulan dengan sesamanya) seperti hasrat bergaul dan sebagainya.
Kecenderungan sosial ini merupakan keanehan, yaitu
perasaan yang lain. Misalnya harga diri. Rasa tetapi juga kelihatan berharga.
Orang yang gila hormat misalnya sebetulnya bertindak karena dorongan
penghargaan orang lain. Kadang-kadang rasa harga dri berhubungan juga dengan
suatu keompok sosial tertentu, misalnya seseorang dapet menunjukan prestasi
yang baik. Kerapkali rasa harga diri menjerma menjadi nafsu untuk berkuasa.
Suatu himpunan manusia supaya merupakan kelompok
sosial harus memenuhi syarat-syarat, antara lain:
1. Setiap
anggota harus sadar bahwa ia merupakan bagian lain kelompoknya
2. Ada
hubungan timbal balik antara anggota-anggotaya.
3. Ada suatu
faktor yang di miliki bersama, seperti nasib yang sama, kepentingan yang sama,
tujuan yang sama, ideologi yang sama dan sebagainya,
Jadi masyarakat itu di bentuk oleh individu-indivdu
yang beradab dalam ke adaan sadar. Indiivdu yang fikiran nya rusak, individu
individu type pertama tidak dapat menjadi anggota masyarakat yang
permanen,saling mengikatkan dirinya dengan individu-individu lain nya .
membentuk sati kesatuan dapet di sebut individu sebagai anggota masyarakat.
Dapatkah kita membedakan pengertian antara ondividu
sebagai perseorangan dan individu sebagai mahluk sosial. Individu perseorangan
berarti individu berbeda dalam keadaan tidak berhubungan dengan individu
lainnya. Atau dengan kata lain : individu
Sesungguhnya
telah kita bedakan dua pengertian yang contras, namun kodratnya manusia iyu
adalah “makhluk sosial” bukan makhluk individual. Kenyataan ini sesuai dengan
rumus Aristoteles : man is by nature a political animal, yang artinya : manusia
pada kodratnya adalah makhluk yang berkumpul-kumpul. Atau dengan singkat
manusia itu adalah zoon politicon.
Bila
rumusan tersebut kita terima dengan sungguh-sungguh sesuai dengan kenyataannya,
maka tak ada jalan lain untuk mengatakan, bahwa manusia sebagai makhluk sosial
adalah sudah pada kodratnya. Auguste Comte tersendiri di dalam ilmu pengetahuan
sosiologi berpendapat bahwa : Kehendak berkumpul itu memang
terkandung di dalam sifat manusia. Nyatalah bahwa manusia pada
kodratnya adalah makhluk sosial, yaitu makhluk yang bertindak seirama dengan
kehendak umum yaitu masyarakat.
Pertumbuhan
adalah suatu perubahan ke arah yang lebih maju dan lebih dewasa. Pertumbuhan
dapat di tinjau dari tiga aliran yaitu Asosiasi, Psikologi Gestalt, Sosiologi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dapat di lihat dari tiga
pendirian,yaitu: Nativistik, Empiristik dan environmentalistik, Konvergensi dan
interaksionisme.
Fungsi-fungsi keluarga yaitu:
a. Sebagai
tempat atau wahana pembentukan kepribadian anak-anak dari anak keturunan
keluarga tersebut.
b. Berfungsi
sebagai alat reproduksi kepribadian-kepribadian
c. Sebagai
eksponen dan perantara (transmisi) kebudayaan masyarakat, sebab keluarga
menempati posisi kunci.
d. Sebagai lembaga
perkumpulan ekonomi dan,
e. Sebagai
pusat-pusat pengasuhan dan pendidikan anak-anak sebagai penerus generasi
bangsa.
Pembagian kerja pada kelompok-kelompok masyarakat
sederhana lebih di titikberatkan pada keterbatasan dan kemampuan fisik ( antara
orang wanita dan pria). Oleh karena itu pekerjaan-pekerjaan yang memerlukan
kekuatan fisik di lakukan oleh orang laki-laki. Sebaliknya perkerjaan yang
ringan di kerjakan oleh orang wanita.
Dalam
lingkungan kelompok masyarakat maju, yang terbagi menjadi masyarakat non
industri dan masyarakat industri, pembagian kerja menjadi lebih kompleks, lebih
rumit dan lebih khusus. Sejalan dengan perkembagannya industri, lahirlah
kelompok masyarakat pemilik modal (di sebut majikan)dan kelompok pekerja.
Berpangkal tolak dari penggolongan kelas-kelas pekerja, dapat di bedakan :
pekerja kasar, pekerja kelas menengah, dan pekerja kelas tinggi.
Individu, Keluarga dan Masyarakat :
a. Individu
di artikan kesatuan yang terbatas yaitu sebagai manusia perseorangan.
b. Mengenai
pengertian keluarga ada beberapa pendapat antara lain :
1. Sigmund
Freud berpendapat bahwa keluarga adalah perwujudan dari adanya perkawinan
antara pria dan wanita, sehingga keluarga itu merupakan perwujudan dorangan
seksual.
2. Ki Hajar
Dewantara berpendapat bahwa keluarga itu adalah kumpulan beberapa orang yang
karena terikat oleh satu turunan lalu mengerti dan merasa berdiri sebagai satu
gabungan yang hakiki, eksensial enak dan berkehendak bersama-sama
memperteguh golongan itu untuk memuliakan masing-masing angotanya.
c. Mengenai
pengertian masyrakat antara lain menurut :
1. Drs.JBAF.MAJOR
Polak berpendapat bahwa masyarakat adalah wadah segenap antar hubungan sosial
terdiri dari kolektiva-kolektiva serta kelompok-kelompok dan sub-sub kelompok.
2. Prof.M.M.Djojodiguno
berpendapat bahwa masyrakat adalah suatu kebulatan dari segala perkembangan
dalam hidup bersama antara manusia dengan manusia.
3. Hasan
Sadily berpendapat bahwa masyrakat adalah suatu keaadan badan atau kumpulan
manusia yang hidup bersama.
Individu mempunyai makna langsung apabila konteks
situsional adalah keluarga atau lembaga sosial, sedangakan individu dalam
konteks lingkungan sosial yang lebih besar, seperti masyarakat atau nasion,
posisi dan peranannya semakin abstrak.
BAB IV
PEMUDA DAN SOSIALISASI
1. INTERNALISASI
BELAJAR DAN SPESIALISASI
Internalisasi adalah proses norma-norma kemasyarakatan
yang tidak berhenti sampai institusionalisasi saja,akan tetapi mungkin
norma-norma tersebut sudah mendarah daging dalam jiwa anggota-anggota
masyarakat.
Norma-norma
ini kadang-kadang dibedakan antara norma-norma :
1) Norma-norma yang
mengatur pribadi yang mencakup norma-norma kepercayaan yang betujuan agar
manusia beriman,dan norma kesusilaan yang bertujuan agar manusia berhati nurani
yang bersih.
2) Norma-norma yang
mengatur hubungan pribadi, mencakup kaidah kesopanan dan kaidah hokum serta
mempunyai tujuan agar manusia bertingkah laku yang baik dalam pergaulan hidup
dan bertijuan untuk mencapai kedamaian hidup.
a. Masalah-masalah
kepemudaan
Massalah pemuda merupakan masalah yang
abadi dan selalu dialami oleh setiap generasi dalam hubungan dengan generasi
yang lebih tua. Problema ini disebabkan karena sebagai akibat dari proses
pendewasaan seorang, penyesuaian dirinya dengan situasi yang baru timbullah
harapan setiap pemuda akan mempunyai masa depan yang (kalau bisa) lebih baik.
Daripada orang tuanya. Proses perubahan terjadi secara
lambat dan teratur (evolusi) atau dengan besar-besaran sehingga orang sukar
mengendalikan perubahan yang terjadi,bahkan seakan-akan tidak diberi kesempatan
untuk menyesuaikan dengan situasi (obyektif) perubahan tadi.
Dewasa
ini umum ditemukan bahwa secara biologi, politis dan fisik seorang pemuda sudah
dewasa akan tetapi secara ekonomis, psikologis masih kurang dewasa. Seringkali
diketemukan pemuda-pemuda telah menikah, mempunyai keluarga menikmati hak
politiknya sebagai warga Negara tetapi dalam segi ekonominya masih tergantung
dari orang tua yang tinggal agak jauh dari tempat belajar/studinya.
Dengan demikian, bagaimana masalah itu dipecahkan juga
mencerminkan kebudayaan masyarakat itu.
Sehubungan dengan ini , para ahli paedaggi social
berpendapat bahwa masalah antar generasi kurang dan hampir tidak terdapat
dimasyarakat yang tertutup tradisional.
Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa masalah antar
generasi merupakan suatu masalah modern.
Adapun
inti pokok adalah bahwa dalam masyarakat dengan system tertutup/tradisional,
pembinaan dan proses pendewasaan terjadi secara kontinyu, diawasi oleh social control
masyarakat.
Suatu
masyarakat akan mengalami stabilitas social apabila “proses reproduksi
generasi” berjalan dengan baik, sehingga terbentuklah personifikasi, identitas-
indentitas dan solidaritas sebagaimana diharapkan oleh generasi sebelumnya.
b. Hakikat
Kepemudaan
Kiranya disadari bahwa ada berbagai tafsiran yang bisa
diberikan terhadap pemuda/generasi muda. Untuk itu kiranya
perlu diperjelas bahwa pengertian pemuda disini adalah mereka yang
berumur diantara 15-30 tahun. Hal ini sesuai dengan pengertian pemuda/generasi
muda sebagaimana yang dimaksudkan dengan pembinaan generasi muda dan
dilaksanakan dalam repelita IV.
Pendekatan klasik tentang pemuda melihat bahwa masa
muda merupakan masa perkembangan yang enak dan menarik. Kepemudaan merupakan
suatu fase dalam pertumbuhan biologis seseorang yang bersifat seketika, dan
sekali waktu akan hilang dengan sedirinya sejalan dengan hokum biologis itu
sendiri: manusia tidak dapat melawan proses ketuaan. Maka keanehan-keeanehan
yang menjadi ciri khas masa muda akan hilang sejalan dengan berubahnya usia.
Pemuda
sebagai suatu subjek dalam hidup, tentulah mempunyai nilai sendiri dalam
mendukung dan menggerakan hidup bersama itu. Hal ini hanya bias terjadi apabila
tingkah laku pemuda itu sendiri ditinjau sebagai interaksi
terhadap lingkunganya dalam arti luas. Penafsiran menganai
identifikasi pemuda seperti ini disebut sebagai sesuatu pendekatan ekosferis.
Ciri
utama dari pendekatan ini melingkupi dua unsur pokok yaitu unsur lingkungan
atau ekolagi sebagai keseluruhan dan kedua, unsur tujuan yang menjadi pengarah
dinamika dalam lingkungan itu. Yang dimaksud dengan “lingkungan” dalam konsep
ini melingkupi seluruh aspek dari totalitas lingkungan yang dapat diidentifisir
dalam unsur-unsur lingkungan fisik, social dan budaya termasuk nilai nilai
kehidupan. Tingkah laku manusia merupakan interaksi antra manusia dengan
lingkungan pesisir pantai akan bertingkah laku yang berbeda dengan hidup di
pegunungan. Yang hidup di kota metropolitan hingarbingar akan berbeda dengan
hidup di dusun-dusun yang penuh kedamaian.
Hubungan
antara manusia sebagai subyek dengan lingkunganya adalah hubungan timbal balik
yang aktif. Artinya, bukan saja manusia itu mengubah, memperbaiki
atau merusak lingkunganya, tetapi juga akan ikut menentukan, mengubah atau
merusak manusia sebagai akibat pengrusakan manusia atas lingkunganya.
Keseimbangan antara manusia dengan lingkunganya adalah suatu keseimbangan yang
dinamis, suatu interaksi yang bergerak. Arah gerak itu sendiri mungkin kea rah
perbaikan mungkin pula kea rah kehancuran. Hal itu tergantung pada tingkat
pengelolaan manusia terhadap lingkunganya, serta jawaban yang kreatif terhadap
potensi lingkunganya, baik potensi manusiawi maupun potensi fisik yang
ekonomis.
2. PEMUDA DAN IDENTITAS
Telah
kita ketahui bahwa “pemuda atau generasi muda” merupakan konsep-konsep yang
selalu dikaitkan dengan masalah “nilai”, hal ini sering lebih merupakan
pengertian ideologisdan kultural daripada pengertian ilmiah. Misalnya “pemuda
harapan bangsa”, “pemuda pemilik masa depan” dan lain sebagainya
yang kesemuanya merupakan bahwa moral bagi pe-
Hal 122
Muda. Tetapi dilain pihak pemuda menghadapi
persoalan-persoalan sepetri kenakalan remaja, ketidakpatuhan persoalan seperti
kenakalan remaja, ketidak pahaman kepada orang tua/guru, kecanduan
narkotika,frustasi, masa depan suram , keterbatasan lapangan kerja dan masalah
lainnya, kesemuanya akibat adanya jurang antara keinginan dan harapan dengan
kenyataan yang mereka hadapi.
Diatas
telah dikemukakan bahwa pemuda sering dibuat “generasi muda”, merupakan istilah
demografis dan sosiologis dalam konteks tertentu. Dalam pola dasar pembinaan
dan pengembangan generasi muda bahwa yang dimaksud pemuda adalah :
1). Dilihat dari segi biologis,terdapat istilah :
Bayi :
0 – 1 tahun
Anak :
1 – 12 tahun
Remaja :
12 – 15 tahun
Pemuda :
15 – 30 tahun
Dewasa :
30 tahun keatas
2). Dilihat dari segi budaya atau fungsional dikenal
istilah :
Anak :
0 – 12 tahun
Remaja :
13 – 18 tahun – 21 tahun
Dewasa :
18 – 21 tahun keatas
Dimuka pengadilan manusia berumur 18 tahun sudah
dianggap dewasa. Untuk tugas- tugas
Negara 18 tahun sering diambil sebagai batas
dewasa tetapi dalam menuntut hak seperti hak pilih, ada yang mengambil 18 tahun
da nada yang mengambil 21 tahun sebagai permulaan dewasa. Dilihat dari segi
psikologis dan budaya, maka pematangan pribadi ditentukan pada usia 21 tahun.
3). Dilihat dari angkatan kerja, ada
istilah tenaga muda dan tenaga tua. Tenaga muda adalah calon- calon yang dapat
diterima sebagai tenaga kerja yang diambil antara 18 – 22 tahun.
4). Dilihat dari perencanaan modern, digunakan istilah
sumber- sumber daya manusia muda (young human resources ) .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar